Admin

Admin

Dalam kerangka mewujudkan cita-cita Indonesia Emas Tahun 2025-2045, daerah sesuai kewenangannya menyusun rencana pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Hal ini dimulai dari penyusunan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah jangka panjang untuk periode 20 (dua puluh) tahun.

Hari ini, Selasa 2 April 2024 telah terlaksana Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RPJPD Kota Surabaya Tahun 2025-2045 yang terselenggara di Ruang Graha Sawunggaling, Gedung Pemerintah Kota Surabaya lantai 6 (Jl. Jimerto No.25-27, Ketabang, Kec. Genteng, Kota Surabaya).

Musrenbang RPJPD dilaksanakan untuk membahas Rancangan RPJPD dalam rangka penajaman visi, misi, arah kebijakan dan sasaran pokok RPJPD. Musrenbang RPJPD dilaksanakan dengan melibatkan pemangku kepentingan, yaitu: Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Perangkat Daerah, DPRD, tokoh masyarakat, akademisi, asosiasi usaha, lembaga swadaya masyarakat, perwakilan/kelompok perempuan, penyandang disabilitas, lansia, anak, dan pemangku kepentingan terkait. Hasil Musrenbang RPJPD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan Musrenbang dan ditandatangani oleh unsur yang mewakili pemangku kepentingan yang menghadiri Musrenbang.

Acara Musrenbang RPJPD Kota Surabaya Tahun 2025-2045 hari ini juga menampilkan penampilan band musik dan fashion show dari Rumah Anak Prestasi; Tari "Pesona Surabaya" dari Sanggar Tari Sawung Dance; dan penyampaian aspirasi pembangunan dari Forum Anak Surabaya. Pembukaan Musrenbang RPJPD Kota Surabaya Tahun 2025-2045 dipimpin langsung oleh bapak Walikota Surabaya, bapak Eri Cahyadi, ST, MT.

Acara Musrenbang RPJPD Kota Surabaya Tahun 2025-2045 hari ini juga dapat disaksikan melalui Youtube dan dapat diakses melalui tautan berikut https://bit.ly/musrenbangRPJPDSBY . Materi pada Musrenbang RPJPD Kota Surabaya Tahun 2025-2045 dapat diakses melalui tautan dibawah ini

https://bit.ly/MateriRPJPDSurabaya

Monday, 18 March 2024 13:14

LKPJ 2023



File Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Walikota (LKPJ) Kota Surabaya tahun 2023
Pagi ini telah dilaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kota Surabaya tahun 2024 dalam rangka Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Surabaya tahun 2025 yang dipimpin langsung oleh bapak Walikota, bapak Eri Cahyadi, ST, MT. Acara ini merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk menjaring aspirasi masyarakat dan menyepakati kegiatan yang menjadi prioritas pembangunan. Acara ini dihadiri oleh Perangkat Daerah Kota Surabaya, DPRD Kota Surabaya, Perwakilan Perempuan, Pemuda, Akademisi dan pemangku kepentingan lainnya.

Berikut adalah lampiran paparan yang dapat diunduh terkait acara Musrenbang Kota Surabaya - RKPD Tahun Anggaran 2025

Arah Kebijakan Pembangunan Prov Jatim Tahun 2025 - Bakorwil IV
Indikator MAKRO Kota Surabaya - BPS
Paparan Musrenbang RKPD Kota Surabaya TA 2025
Forum Konsultasi Publik diselenggarakan dengan tujuan untuk mendapatkan sebanyak banyaknya masukan dan saran untuk selanjutnya dilakukan penyempurnaan rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Surabaya Tahun Anggaran 2025

Berikut adalah lampiran paparan yang dapat diunduh terkait acara Forum Konsultasi Publik Kota Surabaya tahun 2025:
1. Paparan FKP Ranwal RKPD Kota Surabaya 2025
2. Paparan FKP RKPD 2025 Provinsi Jawa Timur 2025

Sinau dan ngaji bareng merupakan inovasi Pemerintah Kota Surabaya untuk memberikan pendampingan belajar bagi anak-anak di Balai RW serta memberikan kesempatan bagi mahasiswa, guru, serta masyarakat untuk peduli terhadap pendidikan di Kota Surabaya. Sinau dan Ngaji Bareng Arek Suroboyo dilaksanakan di Balai RW dan sudah dapat dijumpai di seluruh kecamatan di Kota Surabaya. Syaratnya cukup mudah, yaitu kelurahan mengusulkan ke Dinas Pendidikan untuk dapat dilaksanakan program Sinau dan Ngaji Bareng. Kemudian Dinas Pendidikan melakukan pengecekan di lokasi dengan mempertimbangkan kesiapan balai RW, sarana prasarana, komitmen kelurahan dan warga sekitar serta terdapatnya anak usia sekolah untuk diselenggarakan pendampingan belajar dan mengaji.

Adapun tujuan pelaksanaan program sinau dan ngaji bareng adalah sebagai berikut:
  1. Membantu fasilitasi dan mendampingi anak untuk memahami, mengerjakan tugastugas yang diberikan di sekolah.
  2. Memotivasi siswa untuk semangat dalam belajar
  3. Memberikan wadah bagi siswa untuk bisa beraktivitas secara positif, rekreatif, dan
  4. produktif
  5. Meminimalkan dampak buruk terkait learning loss akibat pandemi Covid 19.

Pelaksanaan kegiatan "Ayo Sinau Bareng" bisa diikuti oleh para peserta didik setiap hari Senin dan Sabtu pukul 18.00-20.00 WIB. Sedangkan untuk pelaksanaan "Ayo Ngaji Bareng", bisa diikuti setiap Rabu pukul 18.00-20.00 WIB. Saat ini program sinau dan ngaji bareng sudah dapat diakses di 219 Balai RW, pada 129 Kelurahan dan 31 Kecamatan.

Terdapat 7.570 fasilitator yang terlibat di program Sinau dan Ngaji Bareng yang terdiri dari guru 5.662 fasilitator, mahasiswa 1.882 fasilitator dan masyarakat 26 fasilitator. Adapun fasilitator mahasiswa merupakan mahasiswa yang mendapat beasiswa Pemuda Tangguh dari Pemerintah Kota Surabaya serta mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas yang menjalin kemitraan dengan Pemerintah Kota Surabaya, antara lain:

  1. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
  2. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
  3. Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya.
  4. Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
  5. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
  6. Universitas Airlangga.
  7. Universitas Muhammadiyah Surabaya
  8. Universitas Negeri Surabaya.
  9. Universitas Pembangunan Nasional
  10. "Veteran" Jawa Timur.
  11. Universitas Trunojoyo Madura.
  12. Universitas Muhammadiyah Surabaya.
  13. Universitas Brawijaya
  14. IPM Surabaya

Bapak Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan bahwa program sinau bareng juga merupakan sarana untuk meningkatkan atmosfer toleransi di Kota Surabaya. Dimana pengajar berasal dari para pemuda lintas agama yang dapat mengajarkan tentang pentingnya pengetahuan dan pengenalan agama bagi anak-anak di Kota Pahlawan. Kolaborasi dengan pemuka agama dan perguruan tinggi adalah wujud dari kebersamaan dan gotong royong yang diinginkan oleh Walikota Eri dalam membangun sebuah kota.

"Para pengajar atau mentor terbuka untuk warga pemeluk setiap agama. Mulai dari agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Maka, itu akan menjadi sangat indah untuk Surabaya," tutur Cak Eri Cahyadi.

Dalam rangka meningkatkan upaya monitoring yang terdigitalisasi, Dinas Pendidikan mempunyai aplikasi dalam bentuk web khusus untuk program Sinau dan Ngaji Bareng. Tutor melaporkan kegiatan belajar mengajarnya di website tersebut sedangkan ketua RW melaporkan di menu laporan RW.

Bagi peserta didik yang ingin mengetahui jadwal pembelajaran bisa mengakses langsung di website https://dispendik.surabaya.go.id/sinau-bareng. Hal ini berlaku juga bagi para volunteer atau relawan pengajar yang ingin mendaftarkan diri untuk terjun langsung membangun pendidikan serta pendidikan karakter di Kota Surabaya. Bagi dulur pembangunan yang ingin berpartisipasi aktif mencerdaskan arek-arek Surabaya dan membangun generasi emas di Kota Surabaya, dapat langsung mendaftar sebab tidak ada kualifikasi khusus bagi relawan pengajar. Hal ini dikarenakan konsep dari Program Sinau dan Ngaji Bareng adalah menumbuhkembangkan semangat belajar bersama warga Kota Surabaya.

Numerous successes and achievements in health development throughout 2023 do not make Surabaya Mayor, Eri Cahyadi, complacent at all. Moreover, Cak Wali's enthusiasm and aspiration has hit the new high to make Surabaya rise to the next level and take part in the international health arena.

After setting a record for the lowest stunting prevalence in Indonesia based on the Indonesian Nutritional Status Study, Surabaya made history once again with the declaration of 100% open defecation free (ODF) in March 2023. Additionally, Surabaya also succeeded in maintaining the first position in the performance assessment of stunting eradication by the Ministry of Home Affairs in 2 (two) consecutive years. Apart from that, Surabaya received various awards on national and international scales, such as the award of ASEAN Environmentally Sustainable City, eradication of Covid-19, Integration of Primary Health Services, Free from Yaws, innovation of community movement in implementing immunization, as well as implementation of Universal Health Coverage reaching 100%. Furthermore, Surabaya successfully maintained the title of Swastisaba Wistara for the third time, which is the highest healthy city category in Indonesia. Besides that, the city achieved the first rank in National STBM Award in primary category. With all these achievements accompanied by systematic and sustainable efforts to create a smart healthy city, Surabaya was chosen by the Ministry of Health to represent Indonesia in the World Health City Forum which was held in South Korea in November, 2023.

Mayor Eri Cahyadi enlightened that the success formula for various accomplishments in the enactment of healthy city in Surabaya was the collaboration of all stakeholders. This aligns with the meaning and purpose of the establishment of healthy city in Indonesia. The implementation of a healthy city is the realization of a city that is clean, beautiful, comfortable, safe and healthy for residents to live in, that is achieved through the implementation of 9 (nine) arrangements and activities integrated and agreed upon by the community and the City Government. The 9 (nine) healthy city arrangements are as follows:

  1. Independent and healthy community life
  2. Housing and public facilities
  3. Educational units
  4. Market
  5. Offices and Industries
  6. Healthy tourism
  7. Transportation and orderly road traffic
  8. Social protection
  9. Disaster management

Mayor Eri elaborated that the success of implementing healthy city in Surabaya could not be separated from the hard works of all elements of society in the City of Heroes.

"We have Healthy City Forum (FKS) at the city, sub-district and urban village levels. There is also a program called integration of primary health services, existing in neighborhood health centers, auxiliary neighborhood health centers as well as family integrated service posts. Besides that, we have an innovation called Kampung Madani. With Kampung Madani, the health movement can be undertaken in the grassroots level," uttered the mayor.

The City Mayor, who is familiarly called Cak Eri, revealed that the success in implementing the smart healthy city were also due to the contribution of the heads of RT, RW, LPMK, Kader Surabaya Hebat (KSH) and TP PKK. A sense of mutual care and mutual cooperation is automatically created when a city’s resident is in ailment.

"We create this circumstance to improve people’s health. In a way that when one of the residents becomes ill or undergoes unfortunate experience, we help him together," he explained.

What is no less important in developing Surabaya healthy city is the contribution from the academic community and non-governmental organizations. For example, Airlangga University facilitates both Surabaya Emas and 1P1P (1 Neighborhood Health Center, 1 Pediatrician) programs. Meanwhile, Non-Government Organizations (NGOs), for instance, Tunas Hijau is active in increasing the awareness of students to keenly participate in protecting and nurturing the environment. Some of the activities carried out by Tunas Hijau include the selection of Environmental Prince and Princess, socialization on disaster mitigation and beach clean-up activities by the students. Furthermore, the WASH Coalition consisting of UNICEF, Wahana Visi, Kotaku, IUWASH, WC-Koe, Habitat for Humanity, Pertamina, Pelindo and several other institutions plays a central role in realizing community-based total sanitation in this second largest city in Indonesia.

Cak Eri added that due to the strong synergy, health management in Surabaya had been integrated from upstream to downstream. Starting from improving health services in hospitals and neighborhood health centers, quickly managing spread of diseases, eradicating stunting, realizing open defecation free (ODF) and providing health insurance for all residents of Surabaya.

Eri assured that Surabaya City Government would continue to work hard to improve the welfare of its citizens. One of the efforts to achieve the goal is by registering in the WHO SEARO Healthy Cities network. With this registration, Surabaya will be accompanied and assisted by WHO SEARO, WHO Indonesia and the National Healthy Cities Forum regarding how to improve the quality of physical and mental well-being of the city’s residents as well as the quality of the city’s development in general.

According to WHO, a healthy city is a city that continuously improves its physical and social conditions and expands community resources so as to facilitate citizens to achieve their maximum potential. The World Health Organization has 6 (six) representative offices throughout the world and for the Southeast Asia region, it is named SEARO which stands for South East Asia Region.

Cak Wali signed a letter registering Surabaya in WHO SEARO Healthy Cities Network (HCN) on January 11, 2024. In the letter, Eri wrote that Surabaya City Government strengthened its commitment to implement a healthy city and was ready to integrate and synergize between Surabaya's Healthy City programs with global standards and WHO SEARO HCN’s norms.

The first meeting between WHO SEARO, WHO Indonesia and the National Healthy Cities Forum with Surabaya City Government and Surabaya Healthy City Forum was held on January 14, 2024. Led by General Administrative Assistant and also attended by Head of The Board of Regional Planning and Research Development (Bappedalitbang) as well as representatives from local government working units, Surabaya City Government expressed its readiness to take part in the WHO SEARO Healthy City certification.

The National Healthy Cities Forum, represented by Yuni Dwi Purwani, stated that the Ministry of Home Affairs and the Ministry of Health appreciated the good intentions of Surabaya Mayor to increase the welfare and well-being of its citizens by registering in the WHO SEARO healthy cities network.

"I have conveyed Surabaya's wish to join WHO SEARO healthy cities network to the Ministry of Home Affairs and the Ministry of Health. Both Ministries really appreciate the initiative of the mayor," Yuni emphasized. This initiative strengthens Surabaya's commitment to support the Healthy Indonesia program at the national level.

Dengan berbagai keberhasilan dan pencapaian pembangunan kesehatan pada tahun 2023, sama sekali tidak membuat Bapak Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, berpuas diri. Tidak surut semangat dan harapan dari Cak Wali untuk membuat Kota Surabaya naik kelas dan berkiprah di kancah kesehatan internasional.

Setelah mencetak rekor prevalensi stunting terendah di Indonesia berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia, Kota Surabaya kembali menorehkan sejarah dengan deklarasi 100% bebas buang air besar sembarangan pada bulan Maret 2023. Kota Surabaya juga berhasil mempertahankan predikat terbaik pertama pada penilaian kinerja stunting oleh Kemendagri 2 (dua) tahun berturut-turut. Selain itu, Kota Surabaya mendapat berbagai penghargaan di skala nasional dan internasional, seperti penghargaan ASEAN Environmentally Sustainable City, penanganan Covid-19, Integrasi Layanan Primer, Kota Surabaya Bebas Frambosia, terbaik pertama dalam inovasi pergerakan masyarakat dalam pelaksanaan imunisasi, serta pelaksanaan Universal Health Coverage yang mencapai 100%. Yang tak kalah istimewa, Kota Surabaya mempertahankan predikat Kota Sehat Swastisaba Wistara kali Ketiga yang merupakan kategori kota sehat tertinggi di Indonesia. Disamping itu, Kota Surabaya meraih gelar perdana sebagai terbaik 1 Nasional STBM Award kategori Pratama. Dengan semua prestasi tersebut beserta upaya yang sistematis dan berkesinambungan untuk mewujudkan kota sehat nan cerdas, Kota Surabaya dipilih oleh Kementerian Kesehatan untuk mewakili Indonesia di World Health City Forum atau Forum Kota Sehat Dunia yang diselenggarakan di Korea Selatan pada bulan November 2023.

Cak Wali menyampaikan bahwa formula sukses berbagai capaian pelaksanaan kota sehat di Surabaya adalah kolaborasi semua pemangku kepentinan. Hal ini sesuai dengan arti dan tujuan diselenggarkannya kota sehat. Penyelenggaraan kota sehat adalah perwujudan suatu kondisi kota yang bersih, indah, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni penduduk yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan 9 (sembilan) tatanan dan kegiatan yang terintegrasi dan disepakati masyarakat dengan Pemerintah Kota. Adapun 9 (sembilan) tatanan kota sehat antara lain:


  1. Kehidupan Masyarakat yang sehat mandiri
  2. Permukiman dan fasilitas umum
  3. Satuan Pendidikan
  4. Pasar
  5. Perkantoran dan Perindustrian
  6. Pariwisata sehat
  7. Transportasi dan tertib lalu lintas jalan
  8. Perlindungan social
  9. Penanganan bencana

Walikota Eri Cahyadi menerangkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kota sehat di Kota Surabaya tak luput dari adanya kerja keras dari seluruh elemen masyarakat di Kota Pahlawan.

"Ada Forum Kota Sehat (FKS) di tingkat kota, kecamatan dan kelurahan. Ada juga integrasi pelayanan kesehatan primer di puskesmas, pustu dan posyandu keluarga. Disamping itu, ada Kampung Madani. Dengan Kampung Madani, pergerakan kesehatan juga bisa berjalan sampai di level bawah," tutur Walikota Eri.

Wali kota yang juga akrab disapa Cak Eri itu mengungkapkan, diraihnya berbagai prestasi dalam pelaksanaan kota sehat ini juga tak luput dari kerja keras dari ketua RT, RW, LPMK, Kader Surabaya Hebat (KSH), Tim Pendamping Keluarga (TPK), hingga Tim Penggerak (TP) PKK. Semua berperan serta aktif sehingga tercipta rasa saling peduli dan gotong royong ketika ada warga yang sakit.

"Ini terus kita bentuk, supaya jangan sampai lagi ada warga yang sakit. Jadi kalau ada yang sakit, atau hal lainnya, itu kita bentuk (tangani) bersama," ungkapnya.

Yang tak kalah penting dalam pembangunan kota sehat Surabaya adalah kontribusi dari civitas akademika serta lembaga swadaya masyarakat. Sebagai contoh, Universitas Airlangga memfasilitasi program Surabaya Emas dan 1P1P (1 Puskesmas 1 Pediatrician). Sedangkan LSM seperti Tunas Hijau bergerak untuk meningkatkan kesadaran pelajar Kota Surabaya agar berpartisipasi aktif dalam melindungi dan menjaga lingkungan. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Tunas Hijau antara lain, pemilihan Putra dan Putri Lingkungan Hidup, sosialisasi mitigasi bencana serta kegiatan pelajar bersih-bersih pantai. Lebih lanjut, Koalisi WASH yang terdiri dari UNICEF, Wahana Visi, Kotaku, IUWASH, WC-Koe, Habitat for Humanity, Pertamina, Pelindo dan beberapa lembaga lainnya memegang peranan sentral dalam perwujudan sanitasi total berbasis masyarakat di kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Cak Eri menambahkan bahwa dikarenakan sinergi kuat tersebut, penanganan kesehatan di Kota Surabaya sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Mulai dari peningkatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dan Puskesmas, gerak cepat dalam menangani penyebaran penyakit, penanganan stunting, open defecation free (ODF) serta jaminan kesehatan untuk seluruh warga Kota Surabaya.

Eri memaparkan bahwa Pemerintah Kota Surabaya akan terus bekerja keras demi meningkatkan derajat kesehatan warganya. Salah satunya dengan mendaftar pada jejaring Kota Sehat WHO SEARO. Dengan pendaftaran tersebut, Surabaya akan didampingi oleh WHO SEARO, WHO Indonesia serta Forum Kota Sehat Nasional terkait bagaimana cara untuk meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan mental dari warga kota serta kualitas pembangunan kota secara keseluruhan.

Kota sehat menurut WHO adalah kota yang secara berkesinambungan meningkatkan kondisi fisik dan sosialnya serta memperluas sumber daya komunitas sehingga memfasilitasi warga untuk mencapai potensi maksimum mereka. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mempunyai 6 (enam) kantor perwakilan di seluruh dunia dan untuk kawasan Asia Tenggara dinamakan SEARO yang merupakan kepanjangan dari South East Asia Region.

Walikota Eri Cahyadi menandatangani surat pendaftaran Kota Surabaya menuju WHO pada tanggal 11 Januari 2024. Di dalam surat tersebut, Eri menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya memperkuat komitmennya dalam pelaksanaan kota sehat serta siap mengintegrasikan dan mensinergikan program Kota Sehat Surabaya dengan norma WHO SEARO dan standar kesehatan di kancah internasional.

Pertemuan pertama antara WHO SEARO, WHO Indonesia dan Forum Kota Sehat Nasional dengan Pemerintah Kota Surabaya dan Forum Kota Sehat Surabaya telah dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2024. Dipimpin oleh Ibu Asisten Administrasi Umum dan juga dihadiri oleh Kepala Bappedalitbang Kota Surabaya serta perwakilan dari Perangkat Daerah, Pemerintah Kota Surabaya menyatakan kesiapan mengikuti sertifikasi Kota Sehat WHO SEARO.

Forum Kota Sehat Nasional yang diwaliki oleh Ibu Yuni Dwi Purwani menyampaikan bahwa Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan mengapresiasi itikad baik dari Bapak Walikota Surabaya untuk lebih mensejahterakan warganya dari sektor fisik maupun social melalui jejaring kota sehat WHO SEARO.

“Saya sudah menyampaikan keinginan Kota Surabaya untuk mengikuti jejaring kota sehat WHO SEARO ke Kemendagri dan Kemenkes. Kedua Kementerian sangat mengapresiasi inisitiatif dari Bapak Walikota Surabaya,” Yuni menegaskan. Hal ini memperkuat komitmen Kota Surabaya dalam mendukung program Indonesia Sehat di level nasional.

Bapak Walikota Surabaya melalui berbagai program dan inovasi pengentasan kemiskinan seperti Padat Karya dan e-Peken, menargetkan angka kemiskinan di Kota Surabaya turun menjadi kurang lebih 2% pada tahun 2024. Lebih lanjut, Cak Eri, sapaan akrabnya, menargetkan zero kemiskinan ekstrem alias tidak ada lagi penduduk miskin ekstrem di Kota Surabaya.

Nah, Dulur Pembangunan mungkin bertanya, apa perbedaan antara kemiskinan dan kemiskinan ekstrem?

Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan konsep kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasarnya (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan penduduk dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi, bisa disimpulkan bahwa penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan

Lalu, apa yang dimaksud dengan Garis Kemiskinan?

Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Kemudian, berapa garis kemiskinan di Kota Surabaya?

Untuk tahun 2023, garis kemiskinan Kota Surabaya adalah sebesar Rp. 718.370,-

Lantas, bagaimanakah definisi dari kemiskinan ekstrem? Apa yang membedakannya dengan kemiskinan umum?

Berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2022 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Program Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, kemiskinan ekstrem adalah kondisi ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar yaitu kebutuhan makanan, air minum bersih, sanitasi layak, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, dan akses informasi yang tidak hanya terbatas pada pendapatan, tetapi juga akses pada layanan sosial. Berdasarkan Bank Dunia, penduduk miskin ekstrem adalah penduduk yang memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup seharihari tidak lebih dari USD 1,9 PPP (Purchasing Power Parity), atau setara dengan Rp10.739/orang/hari atau Rp322.170/orang/bulan.

Dengan kata lain, penduduk miskin ekstrem mempunyai pengeluaran lebih rendah dari penduduk miskin umum. Penduduk miskin umum memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di Kota Surabaya tidak lebih dari Rp. 718.370,-, sedangkan penduduk miskin ekstrem mempunyai pengeluaran per orang per bulan tidak lebih dari Rp. 322.170,-.

Setelah mempertahankan predikat Kota Layak Anak Utama 6 kali berturut-turut dan meraih nilai tertinggi di Indonesia pada Penghargaan Kabupaten/Kota Layak Anak Tahun 2023 oleh Kementerian PPPA, Kota Surabaya siap naik kelas dengan menjadi Kota Layak Anak Paripurna Pertama di Indonesia.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Layak Anak, Kota Layak Anak adalah kota dengan sistem pembangunan yang menjamin pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak yang dilakukan secara terencana, menyeluruh, dan berkelanjutan.


Terdapat 7 (tujuh) klaster Penyelenggaraan Kota Layak Anak di Indonesia, antara lain:
  1. Kelembagaan
  2. Hak Sipil Kebebasan
  3. Lingkungan keluarga dan Pengasuhan Alternatif
  4. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan
  5. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya
  6. Perlindungan Khusus
  7. Kecamatan dan Kelurahan Layak Anak

Dalam melaksanakan setiap klaster Kota Layak Anak tersebut, Pemerintah Kota Surabaya selalu melibatkan anak-anak di Kota Surabaya. Disamping itu, Pemerintah Kota terus berupaya untuk meningkatkan partisipasi anak dalam pembangunan. Salah satunya dengan memberikan hak akses untuk anak-anak agar dapat memberikan saran dan masukannya melalui musrenbang kelurahan, musrenbang kecamatan dan musrenbang kota. Yang tak kalah istimewa, telah dibentuk Forum Anak Kota Surabaya, Forum Anak Kecamatan di 31 Kecamatan serta Forum Anak Kelurahan di 153 Kelurahan di Kota Surabaya.

Pada tahun 2023, Forum Anak Surabaya mencetak beberapa prestasi di tingkat Jawa Timur bahkan Nasional. Diantaranya adalah, Forum Anak Surabaya menjadi Forum Anak Terbaik di Jawa Timur pada Atmaja Award 2023 serta meraih Media Sosial terbaik Daffa Award 2023 yang merupakan ajang penghargaan untuk Forum Anak se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian PPPA.

Yang pasti, Forum Anak Surabaya, Kecamatan dan Kelurahan senantiasa mendukung penuh pelaksanaan Kota Layak Anak di Kota Surabaya agar bisa naik kelas menjadi Kota Layak Anak Paripurna di Tahun 2024.

Page 1 of 9