Admin

Admin

Surabaya, kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, terus berupaya bertransformasi sebagai kota ramah lansia, dengan memprioritaskan kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan warga lanjut usia. Melalui serangkaian inisiatif dan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia, Surabaya menciptakan lingkungan yang suportif dan inklusif sehingga warga lanjut usia dapat menua dengan bahagia serta menikmati kehidupan yang berkualitas. Mulai dari bantuan keuangan hingga layanan kesehatan, Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen untuk memastikan bahwa para lansia dihargai, dihormati, dan diberdayakan untuk menjalani kehidupan yang bermakna di tahun-tahun emas mereka.

Surabaya, seperti kota lain di dunia, harus mempersiapkan peningkatan populasi lansia. Populasi menua (aging population) mengacu pada tren demografi yang ditandai dengan meningkatnya proporsi orang lanjut usia dalam suatu populasi. Walaupun populasi lanjut usia di Kota Surabaya masih rendah yaitu 7.77%, namun di masa yang akan datang proporsi penduduk lansia akan merambat naik. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perubahan demografi ini mencakup kemajuan dalam layanan kesehatan dan peningkatan harapan hidup. Seiring bertambahnya usia penduduk, Surabaya menghadapi tantangan terkait peningkatan layanan kesehatan, dukungan sosial, dan keberlanjutan ekonomi, sehingga mendorong perlunya kebijakan dan program yang tepat sasaran untuk memenuhi kebutuhan warga lanjut usia. Selain itu, memahami karakteristik demografi penduduk lanjut usia di Surabaya sangat penting untuk pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya yang tepat guna menjamin kesejahteraan dan kualitas hidup lansia di Kota Surabaya.

Inisiatif ramah lansia di Surabaya dikembangkan oleh Bapak Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, melalui sistem dukungan komprehensif yang bertujuan untuk meringankan beban keuangan dan meningkatkan kondisi ekonomi di kalangan lansia. Warga lanjut usia tunggal di Surabaya mendapatkan pembebasan tarif air dan listrik, serta pembebasan pajak bumi dan bangunan. Langkah ini tidak hanya membantu para lansia untuk dapat mempertahankan kemandirian mereka tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan dan kondisi psikologis mereka secara keseluruhan.

Selain itu, Surabaya menyediakan layanan perawatan bagi warga lanjut usia melalui penyediaan Griya Werdha dan fasilitas rehabilitasi sosial. Dengan 2 (dua) Griya Werdha yang menyediakan layanan komprehensif seperti makanan, pakaian, layanan kesehatan, dan kebugaran, Surabaya memastikan para lansia menerima perawatan dan perhatian yang layak mereka dapatkan. Ke depan, Surabaya akan memperluas jaringan dukungannya dengan penambahan daya tampung Griya Werdha, sehingga semakin meningkatkan akses terhadap perawatan jangka panjang bagi warga lanjut usia.

Selain kesehatan fisik, Surabaya memprioritaskan kesejahteraan mental para lansia melalui pemeriksaan kesehatan umum dan kesehatan mental. Pemeriksaan ini membantu mengidentifikasi dan mengatasi masalah kesehatan sejak dini, memastikan bahwa lansia menerima intervensi dan dukungan medis tepat waktu. Selain itu, Cak Eri Cahyadi memastikan para lansia menjalani fase penuaan yang berkualitas melalui aktivitas kebugaran serta menyediakan makanan tambahan untuk meningkatkan nutrisi dan vitalitas di kalangan lansia.

Menyadari pentingnya mobilitas dan aksesibilitas, Surabaya menawarkan pilihan transportasi ramah lansia dan infrastruktur yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan lansia. Mulai dari transportasi umum yang mudah diakses hingga jalur pejalan kaki dan ruang publik yang ramah lansia, Surabaya memastikan bahwa para warga senior dapat menjelajahi kota dengan aman dan mandiri.

Selain itu, Surabaya melalui program dandan omah, memfasilitasi renovasi rumah untuk meningkatkan kondisi kehidupan warga lanjut usia. Melalui bantuan langsung tunai untuk warga lanjut usia dengan status miskin, Pemerintah Kota memberikan dukungan keuangan kepada mereka yang membutuhkan, memastikan tidak ada warga lanjut usia dengan status kurang sejahtera yang tidak mendapat intervensi.

Angka harapan hidup di Kota Surabaya terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan komitmen Surabaya untuk meningkatkan layanan kesehatan dan mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat di kalangan warga lanjut usia. Pada tahun 2021, angka harapan hidup di Surabaya berada pada angka 75,43 tahun. Kemudian, usia harapan hidup di kota pahlawan menunjukkan trend positif menjadi 75,63 pada tahun 2022, yang menandakan adanya perbaikan berkelanjutan dalam akses dan kualitas layanan kesehatan bagi lansia. Peningkatan ini berlanjut hingga tahun 2023, dengan angka harapan hidup naik menjadi 75,82 tahun. Trend peningkatan berkelanjutan dalam usia harapan hidup merefleksikan upaya Surabaya dalam meningkatkan upaya kesehatan masyarakat, memperkuat infrastruktur layanan kesehatan, dan memberdayakan masyarakat lanjut usia. Seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, Surabaya siap untuk mempersiapkan populasi lansia yang lebih sehat dan sejahtera, sehingga berkontribusi terhadap kesejahteraan dan kualitas hidup kota secara keseluruhan.

AHH
Usia Harapan Hidup Kota Surabaya Tahun 2021-2023
Sumber Data: BPS Surabaya, 2024

Dapat ditarik kesimpulan bahwa komitmen Kota Surabaya untuk menciptakan kota ramah lansia mencerminkan nilai-nilai kasih sayang, rasa hormat, dan inklusi sosial untuk warga senior. Dengan memprioritaskan kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan warga lanjut usia, Surabaya memberikan contoh positif bagi kota-kota di seluruh Indonesia untuk mewujudkan kebijakan ramah lansia melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Seiring dengan terus berkembangnya Surabaya menjadi kota yang inklusif dan suportif, Surabaya tetap berdedikasi untuk memastikan bahwa warga lanjut usia dapat menikmati kehidupan yang bahagia, sejahtera, dan bermartabat di usia lanjut.

Coinciding with the commemoration of regional autonomy day on April 15, 2024 in Balaikota Surabaya, Eri Cahyadi, the city's visionary mayor, was bestowed with the prestigious Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha by the President of the Republic of Indonesia, Joko Widodo. This distinguished honor marks Eri as the first Surabaya City Mayor to receive such recognition, underscoring his remarkable leadership and the city's exceptional achievements under his stewardship.

Eri's journey to this momentous occasion is a testament to his unwavering dedication to the well-being and prosperity of Surabaya's residents. Through innovative policies, strategic planning, and tireless efforts, he has transformed Surabaya into a beacon of progress and excellence, earning accolades both nationally and internationally.

At the heart of Surabaya's success story lies a commitment to holistic development, addressing key challenges while leveraging opportunities for growth. One of Eri's proudest accomplishments is Surabaya's remarkable progress in combating stunting among children, a pervasive issue in many parts of Indonesia. Through targeted interventions and community engagement initiatives, Surabaya has achieved significant reductions in stunting prevalence to only 1,6%, that is the lowest stunting prevalence in Indonesia, the laying the foundation for a healthier and more resilient future generation.

Furthermore, under Eri's leadership, Surabaya has witnessed notable advancements in human development indices, reflecting improvements in education, healthcare, and overall quality of life. These achievements are a testament to the city's inclusive approach to development, prioritizing the well-being and empowerment of all residents, regardless of background or socioeconomic status through many initiatives, such as: Pemuda Tangguh scholarship, school certificate redemption, 100% Universal Health Coverage, and the empowerment of small medium enterprises via e-peken platform.

Eri's visionary leadership has also contributed to tangible economic gains, with Surabaya experiencing a decrease in unemployment rates and a significant alleviation of poverty. By his initiative, Surabaya has experienced a notable decrease in its open unemployment rate, largely attributed to the implementation of the Padat Karya (Labor Intensive) Program. In 2021, the open unemployment rate stood at 9.68%, reflecting prevailing economic challenges exacerbated by the global pandemic. However, strategic initiatives such as the Padat Karya Program, designed to absorb unemployed labor from underprivileged residents using unutilized assets of the city government, contributed to a significant improvement. By 2022, the open unemployment rate had decreased to 7.62%, showcasing the efficacy of targeted employment initiatives. This positive trend continued into 2023, with the rate further decreasing to 6.76%. Padat Karya Program not only provided much-needed employment opportunities but also revitalized underutilized assets, fostering economic growth and social development in Surabaya.

Moreover, Surabaya's commitment to environmental sustainability and public health has garnered praise and recognition on a national scale. The Mayor’s achievement to realize 100% open defecation free in Surabaya in only 2 (two) years reflects his proactive approach to sanitation and hygiene, ensuring a clean, healthy and comfortable environment for all.

As Eri Cahyadi receives the Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha, he does so not only as a symbol of individual excellence but also as a testament to the collective efforts of Surabaya's residents, civil servants, and stakeholders. This prestigious honor serves as a reminder of the transformative power of visionary leadership, bold initiatives, and unwavering commitment to the common good.

Looking ahead, Eri remains steadfast in his dedication to Surabaya's continued progress and prosperity. With a vision for an advanced, humanistic and sustainable world city, he seeks to build upon past achievements, tackle emerging challenges, and chart a course towards an even brighter future for Surabaya and its people.

Bertepatan dengan puncak peringatan hari otonomi daerah pada tanggal 15 April 2024 di Gedung Balaikota Surabaya, Walikota visioner Surabaya, Eri Cahyadi dianugerahi Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Cak Eri, sapaan akrabnya, merupakan Walikota Surabaya pertama yang menerima penghargaan tersebut, dikarenakan kepemimpinannya yang penuh inisiatif dan inovasi serta keberhasilan Cak Eri mengantar Kota Surabaya sebagai Kota dengan kinerja terbaik di seluruh Indonesia.

Perjalanan Eri menuju momen penting ini merupakan bukti dedikasinya yang tak kenal lelah untuk kesejahteraan warga Surabaya. Melalui kebijakan inovatif, perencanaan strategis, dan upaya perbaikan berkelanjutan, beliau telah mengubah Surabaya menjadi mercusuar kemajuan dan keunggulan, serta mendapatkan penghargaan baik di level nasional maupun internasional.

Inti dari kisah kemajuan Kota Surabaya terletak pada komitmen terhadap pembangunan yang holistik, mengatasi tantangan-tantangan utama sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan. Salah satu pencapaian Eri yang paling membanggakan adalah kemajuan yang dicapai Surabaya dalam pengurangan kasus stunting pada bayi dan balita, yang masih menjadi masalah yang sulit terpecahkan di banyak wilayah di Indonesia. Melalui intervensi spesifik dan sensitif serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, Surabaya mencapai penurunan prevalensi stunting yang signifikan hanya menjadi 1,6%, yang merupakan prevalensi stunting terendah di Indonesia, sehingga meletakkan dasar bagi generasi masa depan yang lebih sehat dan tangguh.

Selain itu, di bawah kepemimpinan Eri, Surabaya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam pembangunan manusia. Kemajuan yang tercermin dalam sektor pendidikan, layanan kesehatan dan kualitas hidup secara keseluruhan. Pencapaian ini merupakan bukti pendekatan pembangunan kota yang inklusif, yang memprioritaskan kesejahteraan dan pemberdayaan seluruh penduduk, tanpa memandang latar belakang atau status sosial ekonomi melalui berbagai inisiatif, seperti: beasiswa Pemuda Tangguh, tebus ijazah, Cakupan Jaminan Kesehatan Semesta 100% serta pemberdayaan usaha kecil menengah melalui platform e-peken.

Kepemimpinan visioner Eri juga berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi yang nyata, dimana Surabaya mengalami penurunan tingkat pengangguran dan pengentasan kemiskinan secara signifikan, yang salah satunya dikarenakan keberhasilan penerapan Program Padat Karya. Pada tahun 2021, tingkat pengangguran terbuka mencapai 9,68%, merefleksikan tantangan perekonomian akibat pandemi global. Inisiatif strategis seperti Program Padat Karya pun digeber Cak Eri untuk menyerap tenaga kerja dari masyarakat miskin dengan menggunakan aset Pemerintah Kota yang tidak terpakai. Sehingga, pada tahun 2022, tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan menjadi 7,62%. Tren positif ini berlanjut hingga tahun 2023, dengan angka yang semakin menurun menjadi 6,76%. Program Padat Karya tidak hanya menyediakan lapangan kerja yang sangat dibutuhkan bagi warga miskin namun juga merevitalisasi aset-aset yang kurang dimanfaatkan, mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial di Kota Surabaya.

Terlebih lagi, komitmen Kota Surabaya terhadap kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat telah mendapat pujian dan pengakuan dalam skala nasional. Pencapaian Cak Eri untuk mewujudkan Kota Surabaya 100% bebas buang air besar sembarangan hanya dalam waktu 2 tahun, mencerminkan pendekatan proaktif terhadap sanitasi dan kebersihan lingkungan, memastikan Kota Surabaya sebagai kota yang bersih, sehat dan nyaman untuk dihuni.

Penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha yang diterima oleh Eri Cahyadi tidak hanya sebagai simbol keunggulan individu, namun juga sebagai bukti upaya kolektif warga Kota Surabaya, aparatur sipil negara, dan seluruh pemangku kepentingan. Penghargaan ini menunjukkan kekuatan transformatif dari kepemimpinan visioner, inisiatif yang berani, dan komitmen teguh terhadap kebaikan bersama dari Bapak Walikota Surabaya, Eri Cahyadi.

Ke depan, Eri tetap teguh dalam dedikasinya demi kemajuan dan kesejahteraan Kota Surabaya yang berkelanjutan. Dengan visi kota yang maju, humanis dan berkelanjutan, beliau berupaya untuk terus mengatasi tantangan yang muncul, dan merencanakan masa depan yang lebih cerah bagi Surabaya dan masyarakatnya.

Surabaya, Indonesia's bustling metropolitan city renowned for its progressive initiatives, has once again secured the esteemed "Anugerah Parahita Ekapraya" award in the mentor category for its outstanding contributions to women's empowerment and protection. This remarkable feat marks the third win for Surabaya in the highest category dedicated to women's advancement in Indonesia, underscoring the city's steadfast commitment to fostering an environment where women can thrive, lead, and succeed.

A Legacy of Empowerment

Surabaya's success in maintaining this prestigious accolade is a testament to its longstanding dedication to women's empowerment and protection. Through a series of innovative programs, policies, and partnerships, the city has actively worked to dismantle barriers and create opportunities for women to achieve their full potential in all aspects of life. For instance, Surabaya has taken a proactive step towards enhancing family wellbeing and community cohesion by establishing Family Learning Centers in 487 community halls across the city. In addition, Surabaya has established WomanInformation Center to equip women with the knowledge, skills, and opportunities they need to thrive in all aspects of life. By promoting access to information, fostering community engagement, and advocating for gender-responsive policies, Surabaya's Woman Information Center is expected to be a driving positive change and to advance women's rights and empowerment in the city and beyond.

Forum Puspa Srikandi Surabaya

Surabaya has taken a proactive stance towards ensuring the welfare and well-being of women through the establishment of "Forum Puspa Srikandi." Inaugurated by Surabaya City Mayor, Eri Cahyadi, this public participation forum serves as a crucial platform for stakeholders from diverse backgrounds to come together and address issues related to women's welfare in the city. Comprising representatives from government agencies, NonGovernment organizations, academic community, business institutions and society, Forum Puspa facilitates collaborative efforts to identify challenges, develop solutions, and implement initiatives aimed at promoting gender equality, protecting women and children's rights, and enhancing their overall quality of life. Through open dialogue, mutual cooperation, and shared responsibility, Forum Puspa embodies Surabaya's commitment to foster inclusive governance, social cohesion, and sustainable development that leaves no woman behind.

Women’s Collaborative Efforts for City Development

Surabaya is witnessing a powerful wave of collaboration among women's groups dedicated to the city's development. Through the concerted efforts of woman organizations such as TP PKK, Gerakan Organisasi Wanita, Dharma Wanita and Bunda PAUD Surabaya Working Groups, women from all walks of life are coming together to drive positive change, foster community empowerment, and promote gender responsive policies across Surabaya. For instance, led by the city's First Lady, Ibu Rini Indriyandi Eri Cahyadi, TP PKK plays a pivotal role in spearheading programs and activities aimed at enhancing the well-being of women and children, promoting health and nutrition, and fostering economic empowerment through skills training and entrepreneurship initiatives.

Steady Increase in Gender Development Index

Surabaya has demonstrated continuous progress in gender development indices, with a steady increase observed over recent years. In 2021, the city recorded a gender development index of 93.90, reflecting ongoing efforts to promote gender equality and empower women across various sectors. Building upon this foundation, Surabaya showed a notable rise to 94.21 in 2022, signaling a continued commitment to advancing gender inclusivity and fostering opportunities for all residents. Impressively, this positive trend persisted into the following year, with the gender development index further increasing to 94.36 in 2023. These successive improvements underscore Surabaya's dedication to create an environment where women can contribute meaningfully to society, and participate fully in the city's education, health and economic sectors.

Gender Development Indices of Surabaya in 2021-2023
Source: Surabaya Statistical Central Bureau, 2024

Setting the Standard

As Surabaya celebrates its third consecutive win of the "Anugerah Parahita Ekapraya" award in the mentor category, it sets a powerful example for cities and communities across Indonesia and beyond. By prioritizing empowerment and protection for women, Surabaya reaffirms its commitment to building a more equitable, inclusive, and prosperous society for all. As the city continues to lead by example, it paves the way for a brighter future where every woman has the opportunity to thrive and contribute to the advancement of her community, city and country

Surabaya, kota metropolitan di Indonesia yang terkenal dengan inisiatif progresifnya, sekali lagi mendapatkan penghargaan "Anugerah Parahita Ekapraya" dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada kategori mentor atas kontribusinya terhadap pemberdayaan dan perlindungan perempuan. Prestasi ini menandai kemenangan ketiga bagi Surabaya dalam kategori tertinggi yang didedikasikan untuk kemajuan perempuan di Indonesia, yang juga menegaskan komitmen teguh Kota Surabaya untuk menciptakan lingkungan di mana perempuan dapat berkembang, memimpin, dan sukses.

Program Pemberdayaan Perempuan

Keberhasilan Surabaya dalam mempertahankan penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya serta mendapat peringkat pertama untuk Daerah Ramah Perempuan dan Layak Anak, merupakan bukti dedikasi jangka panjang Surabaya terhadap pemberdayaan dan perlindungan perempuan. Melalui serangkaian program, kebijakan,dan kemitraan yang inovatif, kota ini secara aktif berupaya menghilangkan hambatan dan menciptakan peluang bagi perempuan untuk mencapai potensi penuh mereka dalam semua aspek kehidupan. Misalnya saja, Surabaya telah mengambil langkah inisiatif untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan perlindungan perempuan dengan mendirikan Pusat Pembelajaran Keluarga di 487 balai RW di seluruh sudut kota. Selain itu, Surabaya mendirikan Pusat Informasi Sahabat Perempuan (PRISMA) untuk membekali perempuan dengan pengetahuan, keterampilan, dan peluang yang mereka butuhkan untuk berkembang dalam segala aspek kehidupan. Dengan mempromosikan akses terhadap informasi, mendorong keterlibatan masyarakat, dan mengadvokasi kebijakan responsif gender, PRISMA Kota Surabaya diharapkan dapat mendorong perubahan positif dan memajukan hak-hak dan pemberdayaan perempuan di Kota Pahlawan dan sekitarnya.

Forum Puspa Srikandi

Surabaya Surabaya telah mengambil sikap proaktif dalam menjamin kesejahteraan dan kesejahteraan perempuan melalui pembentukan “Forum Puspa Srikandi.” Dikukuhkan oleh Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, forum partisipasi publik ini berfungsi sebagai platform penting bagi para pemangku kepentingan dari berbagai latar belakang untuk berkumpul dan mengatasi isu-isu terkait kesejahteraan perempuan di kota tersebut. Terdiri dari perwakilan lembaga pemerintah, LSM, komunitas akademis, lembaga swasta dan masyarakat, Forum Puspa memfasilitasi upaya kolaboratif untuk mengidentifikasi tantangan, mengembangkan solusi, dan melaksanakan inisiatif yang bertujuan untuk mempromosikan kesetaraan gender, melindungi hak-hak perempuan, serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup perempuan secara keseluruhan. Melalui dialog terbuka, gotong royong, dan tanggung jawab bersama, Forum Puspa mewujudkan komitmen Surabaya untuk mendorong tata kelola yang inklusif, kohesi sosial, dan pembangunan berkelanjutan yang tidak meninggalkan perempuan sebagai actor utama pembangunan.

Upaya Kolaboratif Organisasi Perempuan untuk Pembangunan Kota

Surabaya pun menjadi saksi gelombang kolaborasi yang kuat di antara organisasi perempuan yang berdedikasi terhadap pembangunan kota. Melalui upaya bersama dari organisasi perempuan seperti TP PKK, Gerakan Organisasi Wanita, Dharma Wanita dan Kelompok Kerja Bunda PAUD Surabaya, perempuan dari semua lapisan masyarakat bersatu untuk mendorong perubahan positif, mendorong pemberdayaan masyarakat, dan mempromosikan kebijakan responsif gender di Kota Surabaya. Bukti konkretnya, dipimpin oleh Ibu Rini Indriyandi Eri Cahyadi, TP PKK memainkan peran penting dalam mempelopori program dan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak-anak, meningkatkan kesehatan dan gizi serta mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pelatihan keterampilan dan kewirausahaan.

Peningkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) dari Tahun ke Tahun

Surabaya menunjukkan kemajuan yang berkelanjutan dalam pencapaian indeks pembangunan gender (IPG), dengan peningkatan yang stabil selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2021, kota ini mencatat indeks pembangunan gender sebesar 93,90, yang mencerminkan upaya berkelanjutan untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di berbagai sektor. IPG Kota Surabaya pun menunjukkan peningkatan menjadi 94,21 pada tahun 2022, yang menandakan komitmen berkelanjutan untuk memajukan inklusivitas gender dan mendorong peluang bagi semua warga. Tren positif ini terus berlanjut hingga tahun berikutnya, dengan indeks pembangunan gender yang semakin meningkat menjadi 94,36 pada tahun 2023. Peningkatan IPG dari tahun ke tahun ini merefleksikan dedikasi Kota Surabaya untuk menciptakan kondisi kota di mana perempuan dapat memberikan kontribusi yang berarti kepada masyarakat, dan berpartisipasi penuh dalam sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Indeks Pembangunan Gender Kota Surabaya Tahun 2021-2023 Sumber Data: BPS Surabaya, 2024 Menetapkan Standar untuk Indonesia Berbagai kebijakan tersebut memberikan contoh yang baik bagi kota dan komunitas di seluruh Indonesia dan sekitarnya terkait upaya pememberdayaan dan perlindungan perempuan. Dengan mengutamakan pemberdayaan dan perlindungan perempuan, Surabaya menegaskan kembali komitmennya untuk membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan sejahtera bagi semua. Ketika kota ini terus memimpin dengan memberi contoh, hal ini membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah di mana setiap perempuan memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi terhadap kemajuan komunitas, kota dan negaranya.

Indeks Pembangunan Gender Kota Surabaya Tahun 2021-2023
Sumber Data: BPS Surabaya, 2024

Menetapkan Standar untuk Indonesia


Berbagai kebijakan tersebut memberikan contoh yang baik bagi kota dan komunitas di seluruh Indonesia dan sekitarnya terkait upaya pememberdayaan dan perlindungan perempuan. Dengan mengutamakan pemberdayaan dan perlindungan perempuan, Surabaya menegaskan kembali komitmennya untuk membangun masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan sejahtera bagi semua. Ketika kota ini terus memimpin dengan memberi contoh, hal ini membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah di mana setiap perempuan memiliki kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi terhadap kemajuan komunitas, kota dan negaranya.

Surabaya, Indonesia's dynamic urban hub, has achieved a monumental victory in the fight against child stunting, reducing its prevalence to an unprecedented low of 1.6%. This milestone not only underscores the city's commitment to the well-being of its youngest residents but also positions Surabaya as a beacon of hope and progress in the national effort to address malnutrition and ensure the healthy development of future generations.

A Triumph of Collaboration

Surabaya's success in tackling child stunting is the result of a concerted, multi-sectoral effort that brought together government agencies, healthcare providers, non-government organizations, Surabaya Hebat cadres, Family Assistance Team, Health City Forum, universities and society. Recognizing the urgent need to address the underlying causes of stunting, stakeholders worked in unison to implement targeted interventions and policies aimed at improving nutrition, healthcare access, and socioeconomic conditions for vulnerable families.

Addressing Root Causes

At the heart of Surabaya's strategy was a holistic approach to addressing the root causes of stunting, which extend far beyond inadequate food intake to encompass factors such as maternal health, sanitation, hygiene, and access to healthcare services. By investing in maternal and child healthcare programs such as: 1 Community Health Center 1 Pediatrician and 1 Community Health Center 1 Obstetrician-gynecologist, promoting breastfeeding practices, improving water and sanitation infrastructure and providing nutritional supplements, the city laid the groundwork for sustainable progress in combating stunting.

Community Empowerment

Crucially, Surabaya's efforts to combat child stunting were not limited to top-down interventions but also involved empowering communities to take ownership of their health and well-being. Local initiatives, such as the improved services of community health centers, breastfeeding support villages, and additional food provision programs, are the key success in promoting healthy practices and fostering a supportive environment for children to thrive. Rembug stunting is also conducted in the city, sub-district and urban village levels to figure out the determinant factors of Stunting emergence in every smallest area in Surabaya to address and solve the factors effectively.

Measurable Impact

The impact of Surabaya's initiatives is palpable and far-reaching. By prioritizing early childhood nutrition and development, the city has not only reduced the prevalence of stunting but also improved children's overall health outcomes, cognitive development, and long-term prospects. Families once burdened by the devastating effects of malnutrition now have renewed hope for a brighter future, thanks to access to essential healthcare services and zero stunting digitalized and integrated business process.

A National Model

Surabaya's achievement in reducing child stunting prevalence to 1.6% sets a powerful example for other cities and regions across Indonesia grappling with similar challenges. By sharing best practices, lessons learned, and innovative solutions, Surabaya can serve as a catalyst for nationwide progress in addressing malnutrition and ensuring the wellbeing of every child, regardless of socioeconomic status or geographical location.

Looking Ahead

As Surabaya celebrates this historic milestone, Surabaya City Mayor, Eri Cahyadi, has been honored with a prestigious award recognizing exemplary leadership and dedication to combat child stunting and malnutrition. Under the mayor's visionary leadership, Surabaya has implemented a comprehensive set of policies and initiatives aimed at stunting and malnutrition eradication.

Sustaining and building upon the gains made will require continued investment, innovation, and collaboration at all levels of government and society. By remaining steadfast in its commitment to the health and welfare of its youngest citizens, Surabaya can chart a course towards a future where every child has the opportunity to thrive and reach their full potential.

Surabaya, salah satu kota metropolitan yang paling dinamis di Indonesia, mencapai kesuksesan dalam upaya melawan stunting, dengan menurunkan prevalensi stunting ke tingkat terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia yaitu sebesar 1,6%. Pencapaian ini tidak hanya menggarisbawahi komitmen Kota Surabaya terhadap kesehatan bayi dan balita, namun juga menempatkan Surabaya sebagai mercusuar harapan dan kemajuan dalam upaya nasional mengatasi malnutrisi dan menjamin pembangunan kesehatan bagi generasi mendatang.

Sinergi Kuat Surabaya Hebat

Keberhasilan Surabaya dalam menanggulangi stunting merupakan hasil upaya terpadu dan multisektoral yang melibatkan instansi pemerintah, penyedia layanan kesehatan, organisasi masyarakat, Kader Surabaya Hebat, Tim Pendamping Keluarga, civitas akademika, dan masyarakat. Menyadari pentingnya mengatasi penyebab utama stunting, para pemangku kepentingan berkolaborasi untuk menerapkan intervensi dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan nutrisi, akses layanan kesehatan, dan kondisi social ekonomi bagi keluarga rentan.

Mengatasi Akar Penyebab

Inti dari strategi Surabaya adalah pendekatan holistik untuk mengatasi akar penyebab stunting, yang mencakup lebih dari sekedar asupan makanan yang tidak memadai, namun juga mencakup faktor-faktor seperti kesehatan ibu, sanitasi, kebersihan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Dengan berinvestasi pada program layanan kesehatan ibu dan anak seperti: 1 Puskesmas 1 Dokter Spesialis Anak dan 1 Puskesmas 1 Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, mendorong praktik pemberian ASI eksklusif, meningkatkan infrastruktur air dan sanitasi, serta menyediakan permakanan tambahan bagi balita stunting, balita pra stunting, Ibu Hamil dan Menyusui Kurang Energi Kronis, kota ini meletakkan dasar bagi kemajuan yang berkelanjutan dalam memerangi stunting.

Pemberdayaan masyarakat

Yang terpenting, upaya Surabaya untuk menurunkan stunting tidak hanya terbatas pada intervensi top-down namun juga melibatkan pemberdayaan masyarakat untuk berperan serta aktif terhadap pembangunan kesehatan dan kesejahteraan di Kota Surabaya. Inisiatif Pemerintah Kota Surabaya, seperti meningkatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas, Kampung ASI, program pemberian makanan tambahan, melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mempromosikan praktik kesehatan serta menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak. Rembug stunting juga dilakukan di tingkat kota, kecamatan, dan kelurahan untuk mengetahui faktor-faktor penentu munculnya stunting di setiap wilayah terkecil di Surabaya sehingga dapat mengatasi faktor-faktor tersebut secara efektif.

Dampak Terukur

Dampak dari inisiatif-inisiatif Pemerintah Kota Surabaya sangat jelas dan luas jangkauannya. Dengan memprioritaskan nutrisi dan perkembangan anak usia dini, Surabaya tidak hanya mengurangi prevalensi stunting namun juga meningkatkan derajat kesehatan anak-anak secara keseluruhan, perkembangan kognitif, dan prospek jangka panjang. Keluarga-keluarga yang dulu terbebani oleh dampak buruk dari kekurangan gizi kini memiliki harapan baru untuk masa depan yang lebih cerah, berkat peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan di Surabaya serta dan proses bisnis zero stunting yang terdigitalisasi dan terintegrasi.

Percontohan Nasional

Pencapaian Surabaya dalam mengurangi prevalensi stunting pada anak hingga 1,6% memberikan contoh yang baik bagi kota dan daerah lain di Indonesia yang juga menghadapi tantangan serupa. Dengan berbagi praktik terbaik, pembelajaran, dan solusi inovatif, Surabaya dapat menjadi katalis bagi kemajuan nasional dalam mengatasi malnutrisi dan memastikan kesehatan setiap anak, tanpa memandang status sosial ekonomi atau lokasi geografis.

Melihat masa depan

Keberhasilan Surabaya menurunkan prevalensi Stunting, tidak lepas dari kepemimpinan dan dedikasi Bapak Walikota Surabaya, Bapak Eri Cahyadi. Cak Eri pun dianugerahi penghargaan sebagai Kepala Daerah Peduli Stunting. Di bawah kepemimpinan Walikota yang visioner, Surabaya telah menerapkan serangkaian kebijakan dan inisiatif komprehensif yang ditujukan untuk pemberantasan stunting dan malnutrisi.

Mempertahankan dan mengembangkan kemajuan yang telah dicapai memerlukan investasi, inovasi, dan kolaborasi yang berkelanjutan di semua tingkat pemerintahan dan masyarakat. Dengan tetap teguh terhadap komitmennya dalam peningkatan derajat kesehatan bayi dan balita, Surabaya merencanakan masa depan dimana setiap anak mempunyai kesempatan untuk berkembang dan mencapai potensi maksimal mereka.

Achieving SDGs Targets 6 Years Faster!

Bappedalitbang, May 7, 2024 - The Surabaya City Government under the leadership of Mayor Eri Cahyadi has succeeded in reducing the extreme poverty rate to 0% by 2024. This is a remarkable achievement in poverty alleviation efforts in the second largest city in Indonesia.

Based on data from the Central Statistics Agency (BPS), the extreme poverty rate in Surabaya in 2021 is still at 1.2% or around 35 thousand people. Then in 2022 it dropped to 0.8% or around 23 thousand people. Finally, in April 2024, Mayor Eri Cahyadi stipulated a Mayoral Decree that the target data for extreme poor families in Surabaya City had reached 0 people or 0 family heads.

Surabaya's success in alleviating extreme poverty cannot be separated from the various programs and policies carried out by the Surabaya City Government in a comprehensive manner. and integrated. Some of the excellent programs implemented include:


  1. Labor-intensive programs that involve the poor in various development projects and productive businesses such as paving, fish farming, agriculture, tourism, etc. This program has significantly increased the income of the poor
  2. Targeted social assistance and subsidies for poor families, such as assistance with electricity costs, renovation of uninhabitable houses, cheap business loans, etc.
  3. MSME and entrepreneurship development through training, mentoring, access to capital and digital marketing. The municipal government allocates a budget of up to Rp 3 trillion for MSME empowerment.
  4. Improvement of quality public basic services that are easily accessible to the poor, such as education, health, clean water, population administration, etc.

Collaboration and synergy with various parties such as universities, the business world, religious institutions, and the community in handling poverty

For its success in reducing poverty and extreme poverty, Surabaya City Government received awards and fiscal incentives from the central government. Surabaya is also a national pilot in accelerating the elimination of extreme poverty.

Surabaya's success in reducing extreme poverty to 0% should be appreciated and replicated by other regions in Indonesia. With innovative leadership, well-targeted policies, and the collaboration of all parties, complex poverty issues can be resolved effectively and sustainably.

Surabaya's achievement in alleviating extreme poverty also contributes significantly to the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 1 of No Poverty. Related SDG targets. The SDGs targets related to poverty include:

sdgs


Target 1.1: By 2030, eradicate extreme poverty for all people currently earning less than $1.25 a day.

Target 1.2: By 2030, reduce by at least half the proportion of men, women and children of all ages living in poverty in all dimensions, according to national definitions.

By achieving 0% extreme poverty by 2024, Surabaya has realized the SDGs target 6 years ahead of the 2030 deadline. This shows the commitment and seriousness of Surabaya City Government in supporting the global development agenda.

In addition , poverty alleviation efforts in Surabaya also have a positive impact on the achievement of other SDGs such as Goal 2 (No Hunger), Goal 3 (Healthy and Prosperous Life), Goal 4 (Quality Education), Goal 6 (Clean Water and Sanitation), Goal 8 (Decent Work and Economic Growth), and Goal 10 (Reduced Inequality).

Surabaya's success is an inspiration and valuable learning for other cities in Indonesia and the world in realizing inclusive and sustainable development, and achieving the SDGs goals for the welfare of all people.

After successfully alleviating extreme poverty, the next target for Surabaya City Government is to reduce the number of poor and pre-poor families. Based on data from the Surabaya Social Service, until now there are still 92,892 people / 33,723 poor families and 286,082 people / poor families. 89,050 pre-poor families in Surabaya. If not handled properly, these pre-poor families have the potential to fall into poverty.

For this reason, Mayor Eri Cahyadi targets that by August 2023, 65 thousand heads of poor families must have an income of at least Rp. 4 million per month. Various interventions and empowerment programs will be carried out by the Surabaya City Government in collaboration with all stakeholders to achieve this target.

Priority programs that will be implemented include labor-intensive expansion, provision of business capital, skills training, employment absorption by the business world, improving the quality of basic services, and comprehensive social protection for poor and vulnerable families. Collaboration and synergy from all parties are key to the success of efforts to alleviate poverty and pre-poor families in Surabaya.

With strong leadership commitment, innovative and targeted policies, active community participation, and the support of all stakeholders, Surabaya is optimistic that it can realize a city that is increasingly prosperous, equitable, and free from poverty in the future. This success will serve as an example and inspiration for other regions in realizing the goal of "NO ONE LEFT BEHIND" in the spirit of the SDGs. (Bappedalitbang)


"Extreme poverty anywhere is a threat to human security everywhere." - Kofi Annan, Seventh Secretary-General of the United Nations

Mencapai Target SDGs lebih cepat 6 Tahun !

Bappedalitbang, 7 Mei 2024 - Pemerintah Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi telah berhasil menurunkan angka kemiskinan ekstrim menjadi 0% pada tahun 2024. Hal ini merupakan pencapaian yang luar biasa dalam upaya pengentasan kemiskinan di kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan ekstrim di Surabaya pada tahun 2021 masih berada di angka 1,2% atau sekitar 35 ribu jiwa. Kemudian pada tahun 2022 turun menjadi 0,8% atau sekitar 23 ribu jiwa. Akhirnya, pada April 2024, Wali Kota Eri Cahyadi menetapkan Keputusan Walikota bahwa data sasaran keluarga miskin ekstrim di Kota Surabaya sudah mencapai 0 jiwa atau 0 kepala keluarga.

Keberhasilan Surabaya dalam mengentaskan kemiskinan ekstrim tidak lepas dari berbagai program dan kebijakan yang dijalankan Pemkot Surabaya secara komprehensif dan terintegrasi. Beberapa program unggulan yang dilaksanakan antara lain:


  1. Program Padat Karya yang melibatkan masyarakat miskin dalam berbagai proyek pembangunan dan usaha produktif seperti pembuatan paving, budidaya ikan, pertanian, wisata, dll. Program ini mampu meningkatkan pendapatan warga miskin secara signifikan.
  2. Bantuan sosial dan subsidi tepat sasaran bagi keluarga miskin, seperti bantuan biaya listrik, renovasi rumah tidak layak huni, kredit usaha murah, dll.
  3. Pengembangan UMKM dan kewirausahaan melalui pelatihan, pendampingan, akses permodalan dan pemasaran digital. Pemkot mengalokasikan anggaran hingga Rp 3 triliun untuk pemberdayaan UMKM.
  4. Peningkatan layanan dasar publik yang berkualitas dan mudah diakses warga miskin, seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, administrasi kependudukan, dll.

Kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak seperti perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keagamaan, dan masyarakat dalam penanganan kemiskinan.

Atas keberhasilannya menurunkan angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrim, Pemkot Surabaya mendapatkan penghargaan dan insentif fiskal dari pemerintah pusat. Surabaya juga dijadikan percontohan nasional dalam percepatan penghapusan kemiskinan ekstrim.

Keberhasilan Surabaya mengentaskan kemiskinan ekstrim menjadi 0% patut diapresiasi dan direplikasi oleh daerahdaerah lain di Indonesia. Dengan kepemimpinan yang inovatif, kebijakan yang tepat sasaran, dan kolaborasi semua pihak, masalah kemiskinan yang kompleks dapat dituntaskan secara efektif dan berkelanjutan.

Pencapaian Surabaya dalam mengentaskan kemiskinan ekstrim juga berkontribusi signifikan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 1 yaitu Tanpa Kemiskinan (No Poverty). Target SDGs yang terkait kemiskinan antara lain:

sdgs


Target 1.1: Pada tahun 2030, mengentaskan kemiskinan ekstrim bagi semua orang yang saat ini berpendapatan kurang dari $1,25 per hari.

Target 1.2: Pada tahun 2030, mengurangi setidaknya setengah proporsi laki-laki, perempuan dan anak-anak dari semua usia, yang hidup dalam kemiskinan di semua dimensi, sesuai dengan definisi nasional.

Dengan mencapai 0% kemiskinan ekstrim pada tahun 2024, Surabaya telah mewujudkan target SDGs tersebut 6 tahun lebih cepat dari tenggat waktu 2030. Ini menunjukkan komitmen dan keseriusan Pemkot Surabaya dalam mendukung agenda pembangunan global.

Selain itu, upaya pengentasan kemiskinan di Surabaya juga berdampak positif pada pencapaian SDGs lainnya seperti Tujuan 2 (Tanpa Kelaparan), Tujuan 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), Tujuan 6 (Air Bersih dan Sanitasi), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta Tujuan 10 (Berkurangnya Kesenjangan).

Keberhasilan Surabaya menjadi inspirasi dan pembelajaran berharga bagi kota-kota lain di Indonesia dan dunia dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, serta mencapai tujuan-tujuan SDGs demi kesejahteraan seluruh masyarakat.

Setelah berhasil mengentaskan kemiskinan ekstrim, target selanjutnya bagi Pemkot Surabaya adalah mengurangi jumlah keluarga miskin dan pra miskin. Berdasarkan data Dinas Sosial Surabaya, hingga saat ini masih terdapat 92.892 jiwa / 33.723 KK miskin dan 286.082 jiwa / 89.050 KK pra miskin di Surabaya. Jika tidak ditangani dengan tepat, keluarga pra miskin ini berpotensi jatuh menjadi miskin.

Untuk itu, Wali Kota Eri Cahyadi menargetkan pada Agustus 2023, sebanyak 65 ribu kepala keluarga miskin harus sudah memiliki penghasilan minimal Rp 4 juta per bulan. Berbagai intervensi dan program pemberdayaan akan dilakukan oleh Pemkot Surabaya bekerja sama dengan seluruh stakeholder untuk mencapai target tersebut.

Program prioritas yang akan dilaksanakan antara lain perluasan padat karya, pemberian modal usaha, pelatihan keterampilan, penyerapan tenaga kerja oleh dunia usaha, peningkatan kualitas layanan dasar, serta perlindungan sosial yang komprehensif bagi keluarga miskin dan rentan. Kolaborasi dan sinergi dari semua pihak menjadi kunci keberhasilan upaya pengentasan kemiskinan dan keluarga pra miskin di Surabaya.

Dengan komitmen kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang inovatif dan tepat sasaran, partisipasi aktif masyarakat, serta dukungan semua pemangku kepentingan, Surabaya optimis dapat mewujudkan kota yang semakin sejahtera, berkeadilan, dan bebas dari kemiskinan di masa mendatang. Keberhasilan ini akan menjadi contoh dan inspirasi bagi wilayah lain dalam mewujudkan tujuan "NO ONE LEFT BEHIND" sesuai semangat SDGs. (Bappedalitbang)


"Kemiskinan ekstrem di mana pun merupakan ancaman bagi keamanan manusia di mana pun." — Kofi Annan, Sekretaris Jenderal Ketujuh Perserikatan Bangsa-Bangsa
Day 1 - UNICEF CFCI Team Visit to Surabaya City - Strengthening Child Protection System through Interactive Dialogue Surabaya, March 25, 2024

In effort to strengthen and learn good practices in child protection systems, UNICEF's Child Friendly City Initiative (CFCI) team consisting of:

  1. Ms. Shema Sen Gupta, Director, Child Protection Section, UNICEF Headquarters, New York
  2. Ms. Rachel Harvey, Child Protection Adviser, UNICEF Regional Office, Bangkok
  3. Ms. Millen Kidane, Chief of Child Protection Section, UNICEF Indonesia
  4. Ms. Astrid G. Dionisio, Child Protection Specialist, UNICEF Indonesia
  5. Ms. Kinanti Pinta, Communication Specialist, UNICEF Indonesia

accompanied by the Chairperson and the UNICEF Team for the Java Region, paid a special visit to Surabaya City. Warmly welcomed by the Regional Secretary of Surabaya City and staff from the Surabaya City Government, as well as the Head of the Surabaya City Office of the Ministry of Religious Affairs, the visit was an important part of UNICEF's global program to advocate for and support the development of child-friendly cities. Surabaya, as a growing metropolis, has demonstrated its commitment to the fulfillment of children's rights and protection, making it an ideal location for this study visit. This visit is part of Surabaya's assessment process to become a global CFCI member.

Day One: Exploring Surabaya Square and Dialoguing with Surabaya's Great Children

On the first day, the UNICEF CFCI team visited Surabaya's Alun-alun area, one of the city's child-friendly public spaces. The team explored the Surabaya City Children's Friends Information Center (PISA), the Women's Friends Information Center Room (PRISMA), and the Si Arek FAS (Surabaya Children's Forum) Podcast Room.

At PISA, the UNICEF CFCI team learned about the various information and education services provided to children, including information on children's rights, health, education, and child protection. The team also visited the PRISMA Room, which focuses on empowering women and girls. PRISMA contributes to building a safe and supportive environment for all children in Surabaya.

Next, the UNICEF CFCI team witnessed the performance of CAS (Chamber Acoustic Spensabaya) from SMPN 1, who brought passion and positive energy into the room. Through music and art, CAS managed to showcase the extraordinary expression and creativity of Surabaya's children.

Interactive Dialogue: Exploring Good Practices of Surabaya City's Policies

An interactive dialogue held by the UNICEF CFCI Team with Surabaya's children was a crucial moment during this visit. The interactive dialogue was guided by a moderator and attended by children from various communities in Surabaya. The children enthusiastically expressed their questions and opinions on various issues related to child protection.

UNICEF's CFCI team provided comprehensive and informative answers to these questions. The team also explained the various programs and policies that UNICEF has implemented to protect children around the world.

Through these discussions, the team was able to explore and understand the various perspectives, expectations, and challenges faced by children in their daily lives. The dialogue not only provided valuable insights for the UNICEF CFCI Team in understanding the local context of child protection in Surabaya but also strengthened children's voices as an important part of the policy-making process and child-friendly program implementation.

This visit marks an important step in a concerted effort to understand and replicate good practices in child protection in cities around the world. Through initiatives such as PISA, PRISMA, and Forum Anak Surabaya, the city has demonstrated how children's empowerment and their active participation in social life can contribute to inclusive and sustainable urban development.

The UNICEF CFCI team is committed to continuing working with the Surabaya City Government and various stakeholders to strengthen and expand these good practices. The dialogue and collaboration established during this visit will be the foundation for the further development of effective and inclusive child protection systems, not only in Surabaya but also in other cities in Indonesia as well as around the world.

Day 2 - UNICEF CFCI Team Visit to the Open City School for Excellent Adolescent (OCSEA), Nginden Disabled Children’s Home for Achievement and Dialogue towards Bright Future

Surabaya, March 26, 2024


Building a Better Future for Surabaya's Children - Second Day Visit of UNICEF CFCI Team

The second day of the UNICEF Child Friendly Cities Initiative (CFCI) team's visit to Surabaya was an inspiring adventure that reflected the city's passion for child-friendly cities. From innovative schools to caring communities, the UNICEF team was presented with evidence of Surabaya's commitment to protect and empower children.

Looking at Good Practices at MTSN 1 Surabaya

Being curious about the Open City School for Excellent Adolescent program, the UNICEF CFCI team visited MTSN 1 Surabaya. There, they were greeted with the enthusiasm of the students who proudly explained various OCSEA activities, such as poetry musicalization, storytelling, presentations of Sanmar Insan Ambassadors from SMPN 1 and MTSN 1 (OCSEA Good Practices), film screenings, and preventive actions #jagabarenglawanOCSEA. The UNICEF CFCI team highly appreciated the commitment of MTSN 1 Surabaya in realizing a child-friendly school. A warm interactive dialogue ensued between the UNICEF team and the students, discussing various issues related to children's rights and child protection. The spirit and enthusiasm of the students showed that OCSEA has succeeded in creating a child-friendly school environment and supporting the development of their potentials.

Lighting Up Hope at Nginden Disabled Children's Home for Achievement

The visit continued to Rumah Anak Prestasi Nginden, a place filled with the joy and spirit of children with special needs. Smiles and laughter greeted the UNICEF team at Rumah Anak Prestasi Nginden. In this place of joy, the team was treated to a variety of mesmerizing performances from children with special needs, showcasing their amazing talents. The parenting classes, which focused on the education and treatment of children with disabilities and the prevention of child abuse, provided valuable tools for parents and caregivers to assist their children. UNICEF and OCSEA teams shared their knowledge and experience with parents and caregivers of children with disabilities, providing them with valuable tools to create learning spaces filled with inspiration and optimism. Activities at RAP also include services for talent and interest development, demonstrating RAP's commitment to ensuring that every child has the opportunity to grow and develop to their full potentials.

Strengthening the Network at Puspaga Balai RW 5 Genteng

At Puspaga Balai RW 5 Genteng, the UNICEF team was greeted with enthusiasm by the residents and volunteers. The spirit of togetherness was strongly felt in various activities, such as parenting classes, sinau bareng, psychological counseling for children with disabilities, and interactive discussions.

The UNICEF team, PKBM volunteers, PPA Task Force, and Puspaga Balai RW facilitators exchanged information and ideas on various efforts to protect children. The discussion strengthened networks and collaboration between various parties, demonstrating a shared commitment to realizing Surabaya as a safe and comfortable city for children.

Dialogue Towards a Bright Future

The Surabaya City Mayor represented by The Surabaya City Secretary, in his presentation, explained the city's good practices and progress in realizing a child-friendly city. An interactive dialogue with UNICEF's CFCI team generated ideas and inputs to further improve child protection efforts in the city. The handover of souvenirs symbolizes the appreciation of Surabaya City's dedication and commitment. Surabaya City Government will disseminate information about the results of the UNICEF CFCI team visit, bringing inspiration and optimism for other cities in Indonesia to follow Surabaya's footsteps in realizing child-friendly cities.

The UNICEF CFCI team's two-day visit to Surabaya provided a clear picture of the city's strong commitment to protect and empower children. From innovative schools to caring communities, the evidence of Surabaya's commitment was clear. The visit is an inspiration for all to keep on collaborating and moving forward to realize a bright future for children in Indonesia, especially in the city of Surabaya.

#SurabayaKotaLayakAnak #CFCI #UNICEF #ForumAnakSurabaya